Baca Juga

.related-posts ul li a { display: flex; align-items: center; gap: 10px; text-decoration: none; } .related-posts ul li a img { width: 60px; height: auto; object-fit: cover; border-radius: 4px; }

Cokie

Memuat data kunjungan...

Ads

Pondok Pesantren Nur Muhammad

Alamat: Dusun Wiyono Rt 03 Rw 02 Desa Grabag Kecamatan Grabag Kabupaten Magelang Jawa Tengah - Email: ppnurmuhammad038@gmail.com.

Pondok Pesantren Nur Muhammad

Alamat: Dusun Wiyono Rt 03 Rw 02 Desa Grabag Kecamatan Grabag Kabupaten Magelang Jawa Tengah - Email: ppnurmuhammad038@gmail.com.

Pondok Pesantren Nur Muhammad

Alamat: Dusun Wiyono Rt 03 Rw 02 Desa Grabag Kecamatan Grabag Kabupaten Magelang Jawa Tengah - Email: ppnurmuhammad038@gmail.com.

Pondok Pesantren Nur Muhammad

Alamat: Dusun Wiyono Rt 03 Rw 02 Desa Grabag Kecamatan Grabag Kabupaten Magelang Jawa Tengah - Email: ppnurmuhammad038@gmail.com.

Pondok Pesantren Nur Muhammad

Alamat: Dusun Wiyono Rt 03 Rw 02 Desa Grabag Kecamatan Grabag Kabupaten Magelang Jawa Tengah - Email: ppnurmuhammad038@gmail.com.

Sabtu, 14 Desember 2024

Mengenal Kitab Al-Jurumiyah: Kitab Nahwu Dasar Memahami Bahasa Arab Bagi Pemula



PP Nur Muhammad --- Kitab Jurumiyah adalah kitab nahwu yang sangat populer di kalangan pesantren. Kitab ini berisi dasar-dasar tata bahasa Arab yang biasanya dipelajari oleh santri di tingkat pemula. Meski berukuran tipis, kitab ini memiliki banyak manfaat dan kandungan ilmu yang mendalam. Kitab ini ditulis oleh Abu ‘Abdillah Muhammad bin Muhammad bin Daud as-Sonhaji, yang dikenal sebagai Imam ash-Sonhaji. Beliau lahir di Fez, Maroko, pada tahun 672 H dan meninggal pada tahun 723 H. Diyakini bahwa beliau lahir pada tahun yang sama dengan wafatnya Imam Ibnu Malik.

Santri di pesantren mempelajari kitab ini sebagai dasar ilmu nahwu. Alasannya, kitab Jurumiyah memiliki bahasa dan struktur yang mudah dipahami. Selain itu, penyajiannya sangat sederhana tanpa kerumitan, tidak memuat perbedaan pendapat, dan langsung membahas inti materi, yaitu kaidah-kaidah dan contohnya.

Saking ringkasnya kitab ini, hanya ada dua puluh enam bab, dimulai dari bab (1). Kalam, (2). Bab I’rob, (3). Tanda I’rob, (4). Fashal, (5). Bab fi’il, (6). Bab Isim yang dibaca rofa, (7). Bab Fa’il, (8). Bab Naibul fa’il, (9). Bab Mubtada dan Khobar, (10). Bab Amil Nawasih, (11). Bab Na’at, (12). Bab Athof, (13). Bab Taukid, (14). Bab Badal, (15). Bab isim yang dibaca nashob, (16). Bab maf’ul bih, (17). Bab Mashdar, (18). Bab Dzorof Zaman dan Makan, (19). Bab Haal, (20). Bab Tamyiz, (21). Bab Istitsna, (22). Bab Laa, (23). Bab Munada, (24). Bab af’ul Min Ajlih, (25). Bab Maf’ul Ma’ah, (26). Bab Isim yang Dibaca Jer.

Hal ini pula yang menjadi kelebihan serta kelemahan kitab Jurumiyah. Mengapa bisa demikian? Dengan materi yang sangat singkat ini menunjukan kepiawaian sang penulisnya, dengan susunan sistematis tanpa bertele-tele. Namun justru dengan materi yang sangat singkat dan padat tersebut, terkadang membuat penjelasan terlalu singkat, sehingga memerlukan syarah (penjelasan tambahan) baik dari seorang guru atau kitab pendamping.

Jika diajarkan oleh guru/ustadz yang kompeten dan berpengalaman, kitab ini lebih mudah dipahami. Karena, guru/ustadz tersebut biasanya akan memberikan contoh-contoh yang konkret dan penjelasan tambahan sehingga para santri pemula lebih paham dan jelas dengan kaidah-kaidah yang ada. Selain itu, jika para santri sudah memiliki dasar-dasar membaca huruf Arab dan mengenal istilah dasar seperti isim (kata benda), fi'il (kata kerja), dan huruf (kata sambung), maka kitab ini bisa lebih mudah untuk dipahami.

Diantara kitab pendamping atau syarah yang dapat dijadikan sebagai penjelasan tambahan, misalnya seperti Syarah al-Jurumiyah karya Imam al-Kafiyaji atau Hasyiyah al-Khudori, dapat membantu memperjelas makna dan memberikan contoh lebih banyak.

Selain kedua syarah tadi, ada beberapa syarah yang sangat populer diantaranya adalah Kitab Mukhtashar Jiddan, Syarah Al-Kafrawi, Syarah Al-Asymawi, Syarah Khalid Al-Azhari (Abi Naja), Al-Kharidatul Bahiyyah, dan bahkan pengembangannya Al-Fawakihul Janiyyah/Mutammimah Al-Ajurumiyyah.

Dengan 26 bab maka jumlah halaman Kitab Jurumiyah dapat bervariasi tergantung pada edisi, ukuran cetakan, penerbit, dan tambahan seperti syarah (penjelasan) atau catatan dari editor. Namun, jika kita merujuk pada teks asli Jurumiyah yang hanya memuat matan (teks inti) tanpa tambahan syarah atau komentar, kitab ini biasanya terdiri dari sekitar 10-20 halaman saja.

Meskipun kitab ini memang didesain untuk para pemula akan tetapi tetap membutuhkan pendalaman yang matang untuk dapat memahami sepenuhnya. Berikut cuplikan terjemah kitab Jurumiyah bab Kalam.

(Macam-macam Kalam)
Al kalam adalah Lafadz yang tersusun yang berfaedah dengan bahasa arab. Kalam itu ada tiga bagian:

  1. Isim

  1. Fi’il; dan 

  1. Huruf yang memiliki arti.

Isim itu diketahui dengan adanya khafadh, tanwin, dan kemasukan alif dan lam. Dan huruf khafadh itu adalah: min, ila, an, ala, fi, ruba, dan huruf qosam (sumpah) yaitu waw, ba dan ta. Fiil itu diketahui dengan huruf: ta ta’nits yang mati. Huruf itu adalah sesuatu yang tidak sah bersamanya petunjuk isim dan petunjuk fi’il.

Wallohu 'a'lam.

Penulis & Editor: Maz Roha.

Rabu, 11 Desember 2024

Keunikan Ilmu Pesantren: Ilmu Yang Bisa Menjawab Problem Apa saja


PP Nur Muhammad Magelang --- Ya, pesantren adalah lembaga yang unik karena memiliki karakteristik yang berbeda dari sistem pendidikan lain. Secara keilmuan, pesantren memiliki sejumlah keunikan yang membedakannya dari lembaga pendidikan lainnya. Berikut adalah aspek-aspek unik keilmuan yang menjadi ciri khas pesantren:

1. Studi Kitab Kuning
Pesantren dikenal dengan kajian mendalam terhadap kitab kuning (kitab klasik Islam) yang ditulis dalam bahasa Arab tanpa harakat atau yang lebih dikenal dengan istilah kitab gundul. Kitab ini mencakup berbagai disiplin ilmu, seperti tafsir, fiqh, hadits, tasawuf, akhlak, nahwu, dan sharaf, dan masih banyak lagi. Sementara itu, metode pembelajaran di pesantren juga sangat beragam, seperti sorogan (individual), bandongan (kolektif), dan wetonan (pengajian mingguan). Hal ini, ada metode-metode klasik namun sangat efektif diterapkan sehingga menjadikan sebuah keunikan. 

2. Integrasi Ilmu Agama dan Kehidupan Praktis
Ilmu yang diajarkan di pesantren tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti adab, muamalah (interaksi sosial), dan ibadah. Semua santri diajarkan untuk mengintegrasikan ilmu agama dalam aktivitas praktis seperti berdagang, bercocok tanam, atau seni budaya.

3. Keilmuan Berbasis Akhlak
Pesantren mengajarkan ilmu dengan menekankan akhlak dan adab sebagai fondasi utama para santri. Hal ini, didasarkan pada sebuah hadis bahwasanya "Ilmu tanpa adab dianggap tidak bermanfaat", sehingga santri didorong untuk mempraktikkan adab terhadap guru, orang tua, sesama, dan masyarakat.

4. Pendekatan Holistik
Pendidikan di pesantren tidak memisahkan ilmu agama (ulum ad-din) dengan ilmu dunia (ulum ad-dunya). Misalnya, kajian fiqh tentang perdagangan juga disertai dengan etika berdagang menurut Islam yang sesuai dengan ajaran Nabi SAW.

5. Keilmuan yang Fleksibel
Pesantren tidak terikat pada kurikulum formal. karena setiap pesantren dapat menentukan fokus kajian keilmuannya sesuai dengan ciri khas dan visi misi kyai/pengasuh atau kebutuhan masyarakat sekitar. Ada beberapa pesantren lebih menekankan tasawuf, sementara yang lain fokus pada ilmu fiqh atau tafsir, ada juga yang khusus menghafal al-Qur'an, semua itu tergantung dari ketentuan sang kyai/pengasuh pesantren dimana pengasuh memiliki hak penuh untuk menentukan visi misi pesantrennya. 

6. Pengajaran dengan Metode Sanad Ilmu
Keilmuan di pesantren ditransfer melalui sistem sanad (rantai transmisi ilmu). Sanad ini memastikan bahwa ilmu yang diajarkan berasal dari sumber yang terpercaya hingga Rasulullah SAW. Hal ini pula yang menjadikan keilmuan pesantren menjadi unik. Dengan adanya sanad keilmuan yang bersambung sampai kepada Nabi SAW maka metode ini akan menjaga otentisitas ilmu agama Islam yang dikuasai para santri di pesantren.

7. Kontekstualisasi Keilmuan
Pesantren sering kali menyesuaikan ilmu agama dengan konteks lokal, misalnya menggunakan contoh-contoh praktis yang relevan dengan kehidupan masyarakat sekitar. Hal ini menjadikan ilmu yang diajarkan menjadi unik dan lebih aplikatif.

8. Tradisi Hafalan dan Pemahaman
Pesantren menggabungkan metode hafalan (memorization) dengan pemahaman mendalam. Hafalan digunakan untuk menguasai teks, sementara diskusi dan penjelasan mendalam untuk memahami maknanya. Ini merupakan salah satu tradisi yang kuat di pesantren sehingga dengan adanya hafalan ini semua santri diharapkan akan lebih mudah dalam memahami makna yang ada, baik itu berupa nadzom ataupun teks-teks yang ada didalam kitab kuning.

9. Multidisiplin Ilmu
Pesantren tradisional mengajarkan ilmu agama, tetapi pesantren modern telah mengembangkan kajian ilmu sains, teknologi, bahkan hingga kewirausahaan. Hal ini diajarkan untuk memberikan bekal kepada para santri untuk menghadapi tantangan kehidupan modern. Bahkan saat ini pesantren klasik juga sudah mulai mengajarkan berbagai ilmu kemandirian yang meliputi finansial. Sejak pemerintah hadir dan mendorong pesantren dengan memberikan bantuan-bantuan sebagai salah satu wujud upaya pemerintah dalam memfasilitasi pesantren sebagai lembaga pendidikan, diantara bantuan yang paling populer ahir-ahir ini ada bantuan Ingkubasi Pesantren yang di gelontorkan oleh Kementerian Agama untuk memberikan modal bagi pesantren sehingga dapat terwujud kemandirian pesantren.

10. Berbasis Nilai Spiritual dan Tradisional
Pesantren menggabungkan pendidikan agama yang mendalam dengan tradisi lokal. Misalnya, pengajaran kitab kuning menggunakan metode sorogan, bandongan, atau wetonan adalah ciri khas yang tidak ditemukan di institusi lain.

11. Kehidupan Komunal
Santri tinggal bersama di asrama yang mengajarkan hidup mandiri, toleransi, dan kebersamaan. Sistem ini membentuk karakter santri sebagai individu yang mampu beradaptasi dan bekerja dalam komunitas.

12. Hubungan Guru-Murid yang Kuat (Tawadhu)
Dalam pesantren, hubungan antara kiai atau ustaz dengan santri sangat erat dan penuh penghormatan. Prinsip ngalap berkah membuat proses belajar mengajar lebih bermakna karena ada dimensi spiritual dalam hubungan tersebut.

13. Autonomi dalam Pendidikan
Banyak pesantren yang memiliki kurikulum sendiri, berbeda dari sekolah umum, meskipun kini banyak juga yang mengadopsi pendidikan formal. Pesantren tradisional cenderung fokus pada studi agama Islam, sementara pesantren modern juga memasukkan pelajaran sains dan keterampilan lainnya.

14. Peran dalam Masyarakat
Pesantren sering menjadi pusat pemberdayaan masyarakat. Mereka tidak hanya mendidik santri, tetapi juga berkontribusi pada pengembangan ekonomi, budaya, dan keagamaan di lingkungan sekitar.

15. Pelestarian Tradisi Lokal
Pesantren sering kali memadukan ajaran agama dengan budaya lokal, seperti seni hadrah, gamelan Islami, atau syair-syair pujian. Hal ini membuat pesantren menjadi jembatan antara nilai Islam dan tradisi setempat.

16. Pengaruh Jangka Panjang pada Alumni
Alumni pesantren biasanya membawa nilai-nilai luhur, seperti keikhlasan, amanah, dan tanggung jawab, yang membedakan mereka di masyarakat.

17. Pusat Keilmuan yang Fleksibel
Pesantren mengajarkan berbagai disiplin ilmu, tidak hanya agama, tetapi juga keterampilan praktis seperti bertani, berdagang, hingga teknologi modern.
Keunikan ini membuat pesantren tidak hanya sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai tempat pembentukan moral, pusat kebudayaan, dan agen perubahan sosial.

Keunikan-keunikan tersebut menjadikan pesantren tidak hanya sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga pusat pengembangan ilmu yang dinamis dan menyeluruh. Pendidikan pesantren bertujuan membentuk individu yang beradab dan berilmu agama, sementara pendidikan formal bertujuan mencetak individu yang ahli di bidang teknis tertentu.
Sebaiknya keunggulan pesantren tidak dianggap sebagai persaingan dengan pendidikan formal, melainkan saling melengkapi. Santri yang mendalami agama dapat bekerja sama dengan akademisi formal untuk menghasilkan solusi yang komprehensif bagi masalah umat, karena pendidikan pesantren dan formal adalah dua jalur yang sama-sama berkontribusi pada kemajuan ilmu pengetahuan dan masyarakat.

Penulis & Editor: Maz Roha.

Selasa, 10 Desember 2024

Penyerahan SK dan Piagam Izin Operasional PKPPS Ulya di Kabupaten Magelang


PP Nur Muhammad Magelang --- Jumlah Pendidikan Kesetaraan Pondok Pesantren Salafiyah (PKPPS) Tingkat Ulya di Jawa Tengah terus bertambah, mencapai 227 lembaga. Pada hari ini (14/7), 15 PKPPS baru secara resmi menerima Surat Keputusan Izin Operasional (IJOP). Penyerahan izin ini dilakukan secara daring oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah. Acara tersebut diikuti oleh tujuh Kasi PD Pontren dari berbagai Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota, pengelola PKPPS yang menerima IJOP, serta sejumlah Kasi, JFT, dan staf bidang PD Pontren.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah, Musta’in Ahmad, mengapresiasi kerja keras keluarga besar PD Pontren, baik di tingkat Kankemenag maupun Bidang PD Pontren Kanwil, atas dedikasinya dalam memperlancar proses penerbitan Izin Operasional. Ia mengakui meskipun tim telah berupaya semaksimal mungkin, namun masih ada kekurangan yang dirasakan.

“Kekurangan pasti ada, tetapi kami senantiasa berusaha memperbaiki hal tersebut dengan meningkatkan kualitas pelayanan. Kami mohon maaf jika masih ada kekurangan yang ditemukan selama proses ini,” ungkap Musta’in Ahmad.

Ia juga berharap adanya kolaborasi yang lebih baik antara pengelola PKPPS dan pihak terkait agar layanan pendidikan kesetaraan di pondok pesantren semakin optimal dan mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat.

Selanjutnya, Kepala Kanwil Kemenag Jawa Tengah berharap dengan diserahkannya Izin Operasional PKPPS ini, setiap lembaga dapat menjalankan pendidikan dengan optimal, penuh integritas, dan rasa tanggung jawab. Ia menekankan bahwa tanggung jawab tersebut tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga merupakan tanggung jawab moral dan spiritual kepada Allah SWT. “Kami berdoa semoga seluruh pemangku kebijakan dapat menjalankan amanah ini dengan sebaik-baiknya,” ujarnya.

Musta’in Ahmad juga menyampaikan bahwa pemerintah telah memberikan perhatian khusus bagi pesantren. Dengan memenuhi persyaratan tertentu, pesantren kini mendapat pengakuan setara dengan pendidikan formal. Untuk itu, semua pihak diharapkan memahami dan mematuhi Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren. “Jika ingin maju, maka mau tidak mau kita harus memahami dan mematuhi UU ini,” tegasnya.

Dengan komitmen bersama, diharapkan pendidikan di pesantren dapat terus berkembang dan berkontribusi positif dalam mencetak generasi yang berilmu dan berakhlak mulia.

Terkait dengan pandemi Covid-19, Kakanwil Kemenag Jawa Tengah mengingatkan bahwa kondisi nasional saat ini berada dalam keadaan darurat. Ia menyampaikan bahwa situasi saat ini tidaklah baik, dengan semakin banyaknya korban yang jatuh akibat Covid-19, yang perkembangannya sangat pesat, bahkan lebih parah dibandingkan dengan sebelum Idul Fitri. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk benar-benar memahami situasi yang ada dan tetap waspada.

Pemerintah, dengan segala kemampuan yang ada, terus berusaha mengatasi wabah ini, salah satunya dengan menerapkan kebijakan PPKM Darurat. “Jangan lupa untuk selalu berdoa kepada Allah SWT, semoga wabah ini segera diangkat. Semoga kita semua diberi rahmat dan segera dibebaskan dari musibah Covid-19,” tutup Kakanwil dengan penuh harapan.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Bidang PD Pontren, Nur Abadi, menjelaskan bahwa kedudukan PKPPS memiliki makna yang sangat strategis, karena kini telah disetarakan dengan lembaga pendidikan formal lainnya. Hal ini berarti, ijazah yang dikeluarkan oleh lembaga PKPPS tidak hanya diakui dalam konteks pesantren, tetapi juga dapat digunakan sebagaimana ijazah yang dikeluarkan oleh lembaga pendidikan formal pada umumnya.

Dengan adanya pengakuan ini, diharapkan pendidikan yang diselenggarakan di pesantren semakin diakui keberadaannya dan memberikan kesempatan lebih luas bagi santri untuk melanjutkan pendidikan atau memasuki dunia kerja dengan bekal ijazah yang sah dan terakui.

Adapun dari kelima belas PKPPS yang baru saja memperoleh Izin Operasional di Kabupaten Magelang ada tiga pondok pesantren yaitu:
  1. Pondok Pesantren Nur Muhammad, Wiyono, Grabag, Magelang;
  2. Pondok Pesantren Al Furqon, Jl. Tembus Blabak – Boyolali KM 11 Dusun Tlatar, Krogowanan, Sawangan, Magelang; dan
  3. Pondok Pesantren Bina Madani Putri, Tegalrandu, Grabag, Magelang;
Penulis & Editor: Maz Roha.

Senin, 09 Desember 2024

Mengenal Kitab Ihya 'Ulumuddin dan Al Hikam dua Kitab Tasawuf Legendaris

Pada artikel ini admin akan sedikit mengulas tentang dua kitab tasawuf yang sangat lengendaris dan sangat populer dikalangan pesantren. Nah, penasaran apa saja dua kitab tasawuf yang akan admin bahas? Langsung simak artikel ini sampai selesai!


Pesantren adalah lembaga pendidikan klasik yang sudah ada sebelum Indonesia merdeka. Pendidikan yang diajarkan di pesantren juga sangat beragam dengan al-Qur’an dan Hadits sebagai sumber rujukan utamanya. Salah satu kitab klasik yang sangat masyhur di pesantren adalah kitab tasawuf. Tasawuf merupakan salah satu jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan mensucikan hati dari sifat-sifat buruk dan tercela seperti riya', hasad, sombong, ujub, dan menggantinya dengan sifat-sifat terpuji seperti ikhlas, tawadhu', dan sabar.

1. Iḥya ‘Ulumuddin
Nama kitab: Ihya ‘Ulumuddin
Pengarang: Imam al-Ghazali (1058-1111 M)
Tahun Terbit: Ditulis sekitar abad ke-11
Percetakan: Pertama kali dicetak di Kairo, Mesir oleh percetakan Al-Matba‘ah al-Amiriyyah (tahun 1860-an).

Bagi para santri kitab yang satu ini sudah sangat populer bahkan tidak ada santri yang tidak tau dengan kitab ini. Meskipun begitu, tidak sedikit pula umat Muslim yang masih merasa asing dengan kitab karangan al-Imam Ghazali tersebut.

Catatan para ahli sejarah mengemukakan bahwa Imam al-Ghazali pertama kali menulis kitab Ihya Ulumuddin berada di kota suci Al-Quds atau Yerusalem yang terletak di pegunungan Yudea, di antara Laut Tengah dan Laut Mati, yaitu pada tahun 489 H. Adapun ruangan sebelah barat daya dekat dengan batu besar dipilih oleh sang Imam al-Ghazali sebagai tempat menulis kitab Ihya Ulumuddin.

Sebagaimana Imam al-Ghazali memaparkan dalam muqoddimahnya, bahwa pokok pikiran yang beliau tuangkan dalam kitab Ihya ini adalah menjelaskan masalah ilmu yang menjadi sarana penghubung antara kehidupan dunia dengan akhirat. Hal itu, sesuai dengan apa yang sering beliau sampaikan di beberapa kesempatan, beliau selalu mengingatkan bahwa dunia ini adalah ladang akhirat. Namun, diantara paparan beliau yang paling penulis suka adalah "Siapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya".

Dalam kutipan tersebut Imam al-Ghazali memberikan penekanan tentang pentingnya introspeksi (muhasabah) dan kesadaran diri sebagai jalan menuju pengenalan kepada Allah. Dengan demikian mengenali kelemahan diri adalah langkah awal menuju kesadaran akan kebesaran Allah.

2. Al-Hikam
Pengarang: Ibn ‘Aṭhaillah as-Sakandary (1250-1309 M)
Tahun Terbit: Ditulis pada akhir abad ke-13
Percetakan: Dicetak pertama kali di Kairo oleh percetakan Al-Matba‘ah al-Kubra al-Amiriyyah (tahun 1860-an).


Pesantren salaf adalah lembaga pendidikan non-formal yang memiliki tradisi khas dalam mengajarkan kitab kuning sebagai bahan pembelajaran. Kitab kuning yang diajarkan meliputi berbagai disiplin ilmu, seperti fiqh, ushul fiqh, tasawuf, tafsir, tauhid, nahwu, balagah, dan lainnya, yang ditulis oleh para ulama besar dari masa lampau.

Kini, kajian kitab kuning tidak hanya terbatas di pesantren salaf, tetapi juga diajarkan di pesantren modern serta dalam kegiatan seperti seminar dan webinar. Hal ini dilakukan bukan hanya untuk melestarikan warisan keilmuan tersebut, tetapi juga membuktikan bahwa kitab-kitab klasik tersebut masih relevan dengan perkembangan zaman saat ini.

Kitab Al-Hikam karya Syaikh Ahmad ibn Muhammad ibn Atha’illah as-Sakandari memiliki kedalaman makna yang luar biasa, terutama dalam membimbing perjalanan spiritual seorang muslim menuju makrifatullah. Setiap kata-kata bijak dalam kitab ini mengandung pesan moral, penguatan iman, dan motivasi untuk memperbaiki hubungan antara hamba dengan Allah. Hal inilah yang membuat kitab ini tetap relevan sepanjang zaman.

Kitab Al-Hikam adalah kumpulan kata-kata hikmah yang membimbing para pencari jalan spiritual untuk mencapai kedekatan dengan Allah. Setiap hikmah memberikan renungan mendalam mengenai tauhid, keikhlasan, dan pengendalian hawa nafsu. Ibnu Aṭhaillah menekankan pentingnya bergantung kepada Allah dan menghindari ketergantungan pada usaha diri sendiri. Al-Hikam dianggap sebagai salah satu teks klasik tasawuf yang paling inspiratif dan sering digunakan sebagai panduan murid tarekat.

Kehadiran kitab Al-Hikam di pesantren-pesantren salaf membuktikan pentingnya nilai-nilai tasawuf dalam membentuk karakter dan akhlak santri. Pesan-pesan dalam kitab ini mendorong seseorang untuk senantiasa ikhlas, tawakal, dan menjaga hati dari penyakit batin seperti riya, ujub, dan sombong. Selain itu, Al-Hikam juga menekankan keseimbangan antara usaha lahiriah dan penyerahan diri kepada kehendak Allah.

Kitab ini tidak hanya memberikan pedoman bagi para penempuh jalan tasawuf, tetapi juga menjadi rujukan bagi para ulama dan dai dalam menyampaikan ceramah. Keindahan bahasa dan kedalaman makna dari kata-kata mutiara dalam Al-Hikam kerap dijadikan referensi dalam berbagai pengajian dan diskusi keagamaan, baik di tingkat lokal maupun nasional.

Melalui berbagai syarah atau penjelasan dari para ulama, kitab Al-Hikam terus hidup di tengah masyarakat Muslim. Ini menjadi bukti bahwa warisan keilmuan Ibnu Atha’illah as-Sakandari memiliki daya tahan yang kuat terhadap perubahan zaman dan tetap memberikan manfaat untuk kehidupan spiritual umat Islam hingga hari ini.

Berbeda dengan karya-karyanya yang lain seperti Lathaif al-Minan, Miftah al-Falah, dan Taj al-‘Arus, kitab Al-Hikam memiliki gaya penyampaian yang lebih sederhana. Ibnu Atha’illah tidak menyertakan rujukan eksplisit berupa ayat Al-Qur’an, hadits, atau argumentasi yang bersifat teoretis. Penyusunan kitab ini lebih menekankan pada ungkapan-ungkapan reflektif yang lahir dari perjalanan dan pengalaman spiritual penulisnya.

Meski demikian, kedalaman makna yang terkandung di dalamnya mampu memberikan pengaruh besar pada pembacanya. Setiap kata-kata hikmah dalam Al-Hikam seolah menjadi pengingat dan motivasi hidup yang menggugah kesadaran seseorang untuk mendekatkan diri kepada Allah. Kitab ini seakan-akan menjadi panduan pribadi yang membantu pembaca menghadapi berbagai dinamika kehidupan dengan sikap tawakal, ikhlas, dan sabar.

Dengan kesederhanaannya, Al-Hikam berhasil menyentuh aspek batin dan jiwa, memberikan nasihat yang mudah dipahami namun penuh makna mendalam. Hal ini menjadikan kitab Al-Hikam relevan bagi setiap kalangan, baik pemula maupun yang sudah menempuh jalan tasawuf secara mendalam. Dalam kitab ini ada kutipan yang berbunyi:

“Amal perbuatan adalah kerangka yang mati, sedangkan ruhnya adalah keikhlasan yang ada di dalamnya."

Dalam cuplikan ini Syeh Ibn Athaillah as-Sakandary mengingatkan bahwa tanpa keikhlasan, amal ibadah tidak memiliki nilai di sisi Allah. Keikhlasan adalah ruh yang menghidupkan setiap perbuatan.

Itulah tadi dua kitab tasawuf yang sangat legendaris di kalangan pesantren semoga ulasan dalam artikel ini dapat membangkitkan semangat para pembaca untuk dapat mempelajarinya sehingga kita dapat mengamalkan ajaran-ajaran yang sesuai dengan ajaran para sholihin.

Penulis & Editor: Maz Roha.

Sabtu, 07 Desember 2024

Profil BLK Komunitas Pondok Pesantren Nur Muhammad

Balai Latihan Kerja Komunitas (BLKK) adalah program yang dikelola oleh Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia. Program ini dirancang untuk memberikan pelatihan kerja kepada masyarakat, termasuk salah satunya di lingkungan pondok pesantren.

Profil BLK Komunitas Pondok Pesantren Nur Muhammad

BLK Komunitas Pondok Pesantren Nur Muhammad adalah lembaga unit pelatihan kerja yang didirikan di bawah naungan Yayasan Pondok Pesantren Nur Muhammad yang bertujuan untuk memberikan bekal Keterampilan dan Keahlian Vokasi sesuai bidang atau kejuruan yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja atau pengembangan usaha lokal bagi komunitas masyarakat sekitarnya sebagai bekal untuk mencari kerja atau berwirausaha.

Balai Latihan Kerja (BLK) Komunitas Pondok Pesantren Nur Muhammad diharapkan menjadi jawaban dalam meningkatkan kompetensi keterampilan para santri kelas akhir dan masyarakat sekitar lebih-lebih pada tenaga kerja untuk memenuhi tantangan dunia kerja. Pelatihan yang diselenggarakan di BLK Komunitas Pondok Pesantren Nur Muhammad sesuai dengan kejuruan yang dipilih adalah Seni Kuliner. Adapun cakupan pelatihan untuk kejuruan seni kuliner ada dua yaitu Pastry dan Barista kedua pelatihan ini sesuai dengan SKKNI yang di sediakan oleh Kementerian Ketenagakerjaan RI untuk BLK Komunitas.


BLK Komunitas Pondok Pesantren Nur Muhammad Kejuruan Seni Kuliner dalam menjalankan kegiatan operasionalnya, BLK Komunitas Pondok Pesantren Nur Muhammad berkoordinasi dengan BBPVP Semarang selaku pembina BLK Komunitas dan Direktorat Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia.

PROFIL BLK KOMUNITAS
PONDOK PESANTREN NUR MUHAMMAD
A. PROFIL
1. Nama Lembaga : BLK Komunitas Pondok Pesantren Nur Muhammad
2. Alamat : Dusun Wiyono Rt 003 Rw 002
Desa : Grabag
Kecamatan : Grabag
Kabupaten : Magelang
Provinsi : Jawa Tengah
Kode Pos : 56196
Nomor Telepon : 085228385518
Alamat Email : blkk.pp.nurmuhammad@gmail.com
3. Nama Pimpinan : Nyai Uswatun Hasanah
4. Nama Ketua Pengelola : Khoerul Ihsan
5. Kejuruan : Seni Kuliner
6. Luas Bangunan : 238 M2
B. STRUKTUR
7. Penanggung Jawab : Kyai. Amin Mustofa Mahfudz
8. Kepala BLKK : Nyai Uswatun Hasanah
9. Pengelola Adm dan Pelatihan : Mardiyah
10. Instruktur : Rohadi
11. Tim Rekruitmen : Muhammad Ulin Nuha
12. Pengelola Sarpras Dedik Setyanto
Staf I : Muhaimin
Staf II : Nurul Huda

Dalam upaya meningkatkan kualitas keterampilan santri dan masyarakat sekitar, PP Nur Muhammad menghadirkan BLK Komunitas Kejuruan Seni Kuliner. Program ini bertujuan untuk mencetak individu yang terampil di bidang kuliner, baik untuk kebutuhan rumah tangga, usaha mandiri, maupun dunia industri.


Visi dan Misi
Visi:
Menciptakan generasi yang mandiri, kreatif, dan kompeten dalam bidang seni kuliner khususnya dalam bidang pastry dan barista sebagai bekal menghadapi tantangan ekonomi.

Misi:
  1. Memberikan pelatihan seni kuliner berbasis praktik kepada santri dan masyarakat.
  2. Mengembangkan keterampilan memasak yang sesuai dengan standar industri.
  3. Mendukung pertumbuhan wirausaha kuliner lokal melalui pembinaan dan pelatihan.
Fasilitas yang Disediakan
  • Dapur praktik pelatihan.
  • Kelas teori yang luas dan nyaman.
  • Modul pelatihan pastry dan barista.
  • Dukungan bahan pelatihan gratis.

Manfaat BLK Komunitas Seni Kuliner
  1. Membuka peluang kerja di sektor kuliner, baik lokal maupun nasional.
  2. Mendorong lahirnya wirausaha baru di bidang makanan dan minuman.
  3. Meningkatkan keterampilan para santri untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja.
Informasi Lebih Lanjut
Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:
📞 [085228385518]
📍 PP Nur Muhammad, [Kantor Sekretariat]

Dengan hadirnya BLK Komunitas Kejuruan Seni Kuliner di PP Nur Muhammad, kami berharap dapat berkontribusi dalam memberdayakan masyarakat dan mendorong ekonomi kreatif berbasis pesantren.

Penulis & Editor: Maz Roha.