Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
PP. Nur Muhammad Magelang ---- Sebelum kita masuk lebih dalam, artikel ini bakal ngajak sobat santri mengenal salah satu tokoh ulama besar di Magelang dan sangat masyhur yang jejaknya masih hidup sampai hari ini. beliau adalah Mbah Kyai Dalhar Watucongol, sosok ulama yang sanad ilmunya kuat, nasabnya jelas, dan riyadhohnya bikin orang sadar bahwa kemuliaan itu lahir dari kesungguhan. Jika dalam tulisan ini ada yang perjuangannya. Oke Markinjut Mari Kita Lanjut…
Asal-Usul dan Nasab Mbah Kyai Dalhar
Mbah Kyai Dalhar lahir di komplek Pesantren Darussalam Watucongol, Muntilan, Magelang, hari Rabu, 10 Syawal 1286 H atau 12 Januari 1870 M. Nama asli beliau adalah Nahrowi. Beliau merupakan putra dari Kyai Abdurrahman bin Abdurrauf bin Kyai Hasan Tuqo.
Garis nasabnya nyambung ke Sunan Amangkurat Mas (Amangkurat III). Karena keturunan keraton, Kyai Hasan Tuqo dikenal juga dengan gelar Raden Bagus Kemuning. Meski keturunan ningrat, beliau memilih jalan ilmu agama, keluar dari keraton, lalu menetap di daerah yang kini dikenal sebagai Desa Tetuko, Godean, Yogyakarta.
Ayah beliau, Kyai Abdurrauf, adalah panglima perang Pangeran Diponegoro. Ketika terjadi perang besar di wilayah Kedu, beliau dipercaya menjaga Muntilan dan membangun pesantren di Tempur, Gunungpring. Pesantren ini kemudian diteruskan putranya, Kyai Abdurrahman, sebelum akhirnya diasuh Mbah Kyai Dalhar dan dipindah ke Watucongol.
Masa Mondok dan Rihlah Ilmiah
Sejak kecil, Mbah Kyai Dalhar tumbuh dilingkungan pesantren. Beliau belajar dasar-dasar agama kepada ayahnya, lalu mondok pada usia 13 tahun di bawah asuhan Mbah Kyai Mad Ushul di Salaman.
Usia 15 tahun, beliau melanjutkan pengembaraan ilmu ke Pondok Al-Kahfi Somalangu Kebumen, berguru kepada Syeikh As-Sayyid Ibrahim Al-Jilani Al-Hasani. Delapan tahun kemudian, beliau diberangkatkan ke Makkah bersama putra sang guru, Sayid Abdurrahman.
Kedua santri ini menempuh perjalanan darat hingga ke Semarang. Saking tawadhu-nya, Mbah Kyai Dalhar menuntun kuda Sayid Abdurrahman sepanjang perjalanan, meski berkali-kali dipersilakan naik.
Di Makkah, beliau tinggal di Rubath Misfalah bersama ulama besar Syeikh As-Sayyid Muhammad Babashol Al-Hasani, Mufti Syafi’iyyah saat itu. Beliau belajar di tanah suci selama 25 tahun. Dari sang guru pula beliau mendapat nama “Dalhar,” sehingga nama lengkapnya menjadi Nahrowi Dalhar.
Di Makkah beliau mendapat ijazah Thariqah Syadziliyah dari Syeikh Muhtarom Al-Makki, serta ijazah Dalailul Khoirot dari Sayyid Muhammad Amin Al-Madani. Dua amalan ini kemudian menjadi amaliyah khas di Watucongol.
Riyadhoh dan Amalan Mbah Kyai Dalhar
Beliau dikenal sebagai ahli riyadhoh tingkat tinggi. Riwayat yang disampaikan para ulama hakikat menyebut bahwa beliau amat dekat dengan Nabi Khidhr.
Beberapa riyadhoh beliau yang masyhur
- Pernah khalwat 3 tahun di sebuah goa sempit, hanya berbuka dengan 3 butir kurma dan sedikit air Zamzam.
- Tidak pernah buang hajat di tanah haram; setiap butuh, beliau keluar wilayah haram.
- Bisa melakukan dzikir sirr hingga 3 hari 3 malam tanpa bisa diganggu.
- Membiasakan sahrul layali (begadang ibadah) yang kemudian menjadi tradisi putra-putra beliau di Watucongol.
Karomah Mbah Kyai Dalhar
Di antara karomahnya yang dikenal masyarakat
Suara pengajiannya bisa terdengar hingga 300 meter tanpa pengeras suara.
Mengetahui lokasi makam para auliya yang terlupakan oleh masyarakat.
Karya dan Sanad Keilmuan
Karya beliau yang terkenal adalah Kitab Tanwirul Ma’ani, berisi manaqib Syeikh Abul Hasan Asy-Syadzili. Ada beberapa karya lain yang masih diteliti karena penyandaran ilmunya sangat luas. Selain itu banyak ulama besar abad 20 berguru kepada beliau, di antaranya:
- KH Mahrus Ali, Lirboyo
- KH Dimyathi, Banten
- KH Marzuki, Giriloyo
Wafatnya Mbah Kyai Dalhar
Setelah sakit sekitar tiga tahun, beliau wafat pada Rabu Pon, 29 Ramadhan 1378 H (8 April 1959 M). Ada riwayat menyebut 23 Ramadhan, tapi penanggalan hari tidak cocok. Riwayat paling kuat disampaikan oleh putra beliau, KH Ahmad Abdul Haq.
Warisan beliau bukan cuma cerita karamah atau riwayat riyadhoh, tapi cara beliau mendidik orang untuk mengenal Allah dengan penuh istiqamah, ikhlas tanpa panggung, dan menjaga adab disaat dunia sudah berubah. Di titik ini, nama “Dalhar” bukan sekadar nama, tapi simbol perjalanan panjang seorang hamba yang seluruh hidupnya dikhidmahkan untuk ilmu dan kemanfaatan.
Semoga artikel ini bisa membangkitkan semangat kita para santri untuk terus berkhidmah kepada ilmu dan para Masyayikh kita, dari hati yang paling tulus saya do’akan semoga keluarga kita dan anak cucu kita mendapatkan barokahnya ilmu dan para Masyayikh sehingga kita digolongkan menjadi umat yang hidup sejahtera dunia dan akhirat. Aamiin…
📚 Sumber Referensi:
Musthofa, Khoirul. "KH. Nahrowi Dalhar (KH. Dalhar Watucongol)". Skripsi. IAIN Ponorogo, t.t. [Diakses pada 20 November 2025, pukul 09.10 WIB].
Universitas Islam Negeri Walisongo. "Moderasi Beragama". Repository Eprints Walisongo, t.t. [Diakses pada 20 November 2025, pukul 10.12 WIB].
Pratama, Wilda Juni. "Peran Syeikh Abdul Malik". Skripsi. Repository UIN SAIZU, t.t. [Diakses pada 21 November 2025, pukul 10.12 WIB].
NU Jateng. “Pandangan Imam Abu Hasan Al-Syadzili dalam Kitab Manakib Karya Kiai Dalhar Watucongol.” NU Online. [Diakses pada 21 November 2025, pukul 11.27 WIB].
NU Online. “KH Dalhar Watucongol, Kyai Pejuang dan Cucu Panglima Perang Jawa.” [Diakses pada 21 November 2025, pukul 14.43 WIB].
Suara Merdeka. “Mbah Dalhar sebagai Mursyid dan Tokoh Budaya". [Diakses pada 22 November 2025, pukul 10.12 WIB].
Republika. “Mbah Dalhar, Santri Pejuang Kemerdekaan.” Khazanah Republika. [Diakses pada 22 November 2025, pukul 10.12 WIB].
Penulis & Editor: Maz Roha