Baca Juga

.related-posts ul li a { display: flex; align-items: center; gap: 10px; text-decoration: none; } .related-posts ul li a img { width: 60px; height: auto; object-fit: cover; border-radius: 4px; }

Cokie

Memuat data kunjungan...

Ads

Senin, 09 Desember 2024

Mengenal Kitab Ihya 'Ulumuddin dan Al Hikam dua Kitab Tasawuf Legendaris

Pada artikel ini admin akan sedikit mengulas tentang dua kitab tasawuf yang sangat lengendaris dan sangat populer dikalangan pesantren. Nah, penasaran apa saja dua kitab tasawuf yang akan admin bahas? Langsung simak artikel ini sampai selesai!


Pesantren adalah lembaga pendidikan klasik yang sudah ada sebelum Indonesia merdeka. Pendidikan yang diajarkan di pesantren juga sangat beragam dengan al-Qur’an dan Hadits sebagai sumber rujukan utamanya. Salah satu kitab klasik yang sangat masyhur di pesantren adalah kitab tasawuf. Tasawuf merupakan salah satu jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan mensucikan hati dari sifat-sifat buruk dan tercela seperti riya', hasad, sombong, ujub, dan menggantinya dengan sifat-sifat terpuji seperti ikhlas, tawadhu', dan sabar.

1. Iḥya ‘Ulumuddin
Nama kitab: Ihya ‘Ulumuddin
Pengarang: Imam al-Ghazali (1058-1111 M)
Tahun Terbit: Ditulis sekitar abad ke-11
Percetakan: Pertama kali dicetak di Kairo, Mesir oleh percetakan Al-Matba‘ah al-Amiriyyah (tahun 1860-an).

Bagi para santri kitab yang satu ini sudah sangat populer bahkan tidak ada santri yang tidak tau dengan kitab ini. Meskipun begitu, tidak sedikit pula umat Muslim yang masih merasa asing dengan kitab karangan al-Imam Ghazali tersebut.

Catatan para ahli sejarah mengemukakan bahwa Imam al-Ghazali pertama kali menulis kitab Ihya Ulumuddin berada di kota suci Al-Quds atau Yerusalem yang terletak di pegunungan Yudea, di antara Laut Tengah dan Laut Mati, yaitu pada tahun 489 H. Adapun ruangan sebelah barat daya dekat dengan batu besar dipilih oleh sang Imam al-Ghazali sebagai tempat menulis kitab Ihya Ulumuddin.

Sebagaimana Imam al-Ghazali memaparkan dalam muqoddimahnya, bahwa pokok pikiran yang beliau tuangkan dalam kitab Ihya ini adalah menjelaskan masalah ilmu yang menjadi sarana penghubung antara kehidupan dunia dengan akhirat. Hal itu, sesuai dengan apa yang sering beliau sampaikan di beberapa kesempatan, beliau selalu mengingatkan bahwa dunia ini adalah ladang akhirat. Namun, diantara paparan beliau yang paling penulis suka adalah "Siapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya".

Dalam kutipan tersebut Imam al-Ghazali memberikan penekanan tentang pentingnya introspeksi (muhasabah) dan kesadaran diri sebagai jalan menuju pengenalan kepada Allah. Dengan demikian mengenali kelemahan diri adalah langkah awal menuju kesadaran akan kebesaran Allah.

2. Al-Hikam
Pengarang: Ibn ‘Aṭhaillah as-Sakandary (1250-1309 M)
Tahun Terbit: Ditulis pada akhir abad ke-13
Percetakan: Dicetak pertama kali di Kairo oleh percetakan Al-Matba‘ah al-Kubra al-Amiriyyah (tahun 1860-an).


Pesantren salaf adalah lembaga pendidikan non-formal yang memiliki tradisi khas dalam mengajarkan kitab kuning sebagai bahan pembelajaran. Kitab kuning yang diajarkan meliputi berbagai disiplin ilmu, seperti fiqh, ushul fiqh, tasawuf, tafsir, tauhid, nahwu, balagah, dan lainnya, yang ditulis oleh para ulama besar dari masa lampau.

Kini, kajian kitab kuning tidak hanya terbatas di pesantren salaf, tetapi juga diajarkan di pesantren modern serta dalam kegiatan seperti seminar dan webinar. Hal ini dilakukan bukan hanya untuk melestarikan warisan keilmuan tersebut, tetapi juga membuktikan bahwa kitab-kitab klasik tersebut masih relevan dengan perkembangan zaman saat ini.

Kitab Al-Hikam karya Syaikh Ahmad ibn Muhammad ibn Atha’illah as-Sakandari memiliki kedalaman makna yang luar biasa, terutama dalam membimbing perjalanan spiritual seorang muslim menuju makrifatullah. Setiap kata-kata bijak dalam kitab ini mengandung pesan moral, penguatan iman, dan motivasi untuk memperbaiki hubungan antara hamba dengan Allah. Hal inilah yang membuat kitab ini tetap relevan sepanjang zaman.

Kitab Al-Hikam adalah kumpulan kata-kata hikmah yang membimbing para pencari jalan spiritual untuk mencapai kedekatan dengan Allah. Setiap hikmah memberikan renungan mendalam mengenai tauhid, keikhlasan, dan pengendalian hawa nafsu. Ibnu Aṭhaillah menekankan pentingnya bergantung kepada Allah dan menghindari ketergantungan pada usaha diri sendiri. Al-Hikam dianggap sebagai salah satu teks klasik tasawuf yang paling inspiratif dan sering digunakan sebagai panduan murid tarekat.

Kehadiran kitab Al-Hikam di pesantren-pesantren salaf membuktikan pentingnya nilai-nilai tasawuf dalam membentuk karakter dan akhlak santri. Pesan-pesan dalam kitab ini mendorong seseorang untuk senantiasa ikhlas, tawakal, dan menjaga hati dari penyakit batin seperti riya, ujub, dan sombong. Selain itu, Al-Hikam juga menekankan keseimbangan antara usaha lahiriah dan penyerahan diri kepada kehendak Allah.

Kitab ini tidak hanya memberikan pedoman bagi para penempuh jalan tasawuf, tetapi juga menjadi rujukan bagi para ulama dan dai dalam menyampaikan ceramah. Keindahan bahasa dan kedalaman makna dari kata-kata mutiara dalam Al-Hikam kerap dijadikan referensi dalam berbagai pengajian dan diskusi keagamaan, baik di tingkat lokal maupun nasional.

Melalui berbagai syarah atau penjelasan dari para ulama, kitab Al-Hikam terus hidup di tengah masyarakat Muslim. Ini menjadi bukti bahwa warisan keilmuan Ibnu Atha’illah as-Sakandari memiliki daya tahan yang kuat terhadap perubahan zaman dan tetap memberikan manfaat untuk kehidupan spiritual umat Islam hingga hari ini.

Berbeda dengan karya-karyanya yang lain seperti Lathaif al-Minan, Miftah al-Falah, dan Taj al-‘Arus, kitab Al-Hikam memiliki gaya penyampaian yang lebih sederhana. Ibnu Atha’illah tidak menyertakan rujukan eksplisit berupa ayat Al-Qur’an, hadits, atau argumentasi yang bersifat teoretis. Penyusunan kitab ini lebih menekankan pada ungkapan-ungkapan reflektif yang lahir dari perjalanan dan pengalaman spiritual penulisnya.

Meski demikian, kedalaman makna yang terkandung di dalamnya mampu memberikan pengaruh besar pada pembacanya. Setiap kata-kata hikmah dalam Al-Hikam seolah menjadi pengingat dan motivasi hidup yang menggugah kesadaran seseorang untuk mendekatkan diri kepada Allah. Kitab ini seakan-akan menjadi panduan pribadi yang membantu pembaca menghadapi berbagai dinamika kehidupan dengan sikap tawakal, ikhlas, dan sabar.

Dengan kesederhanaannya, Al-Hikam berhasil menyentuh aspek batin dan jiwa, memberikan nasihat yang mudah dipahami namun penuh makna mendalam. Hal ini menjadikan kitab Al-Hikam relevan bagi setiap kalangan, baik pemula maupun yang sudah menempuh jalan tasawuf secara mendalam. Dalam kitab ini ada kutipan yang berbunyi:

“Amal perbuatan adalah kerangka yang mati, sedangkan ruhnya adalah keikhlasan yang ada di dalamnya."

Dalam cuplikan ini Syeh Ibn Athaillah as-Sakandary mengingatkan bahwa tanpa keikhlasan, amal ibadah tidak memiliki nilai di sisi Allah. Keikhlasan adalah ruh yang menghidupkan setiap perbuatan.

Itulah tadi dua kitab tasawuf yang sangat legendaris di kalangan pesantren semoga ulasan dalam artikel ini dapat membangkitkan semangat para pembaca untuk dapat mempelajarinya sehingga kita dapat mengamalkan ajaran-ajaran yang sesuai dengan ajaran para sholihin.

Penulis & Editor: Maz Roha.

0 comments:

Posting Komentar