Baca Juga

.related-posts ul li a { display: flex; align-items: center; gap: 10px; text-decoration: none; } .related-posts ul li a img { width: 60px; height: auto; object-fit: cover; border-radius: 4px; }

Cokie

Memuat data kunjungan...

Ads

Pondok Pesantren Nur Muhammad

Alamat: Dusun Wiyono Rt 03 Rw 02 Desa Grabag Kecamatan Grabag Kabupaten Magelang Jawa Tengah - Email: ppnurmuhammad038@gmail.com.

Pondok Pesantren Nur Muhammad

Alamat: Dusun Wiyono Rt 03 Rw 02 Desa Grabag Kecamatan Grabag Kabupaten Magelang Jawa Tengah - Email: ppnurmuhammad038@gmail.com.

Pondok Pesantren Nur Muhammad

Alamat: Dusun Wiyono Rt 03 Rw 02 Desa Grabag Kecamatan Grabag Kabupaten Magelang Jawa Tengah - Email: ppnurmuhammad038@gmail.com.

Pondok Pesantren Nur Muhammad

Alamat: Dusun Wiyono Rt 03 Rw 02 Desa Grabag Kecamatan Grabag Kabupaten Magelang Jawa Tengah - Email: ppnurmuhammad038@gmail.com.

Pondok Pesantren Nur Muhammad

Alamat: Dusun Wiyono Rt 03 Rw 02 Desa Grabag Kecamatan Grabag Kabupaten Magelang Jawa Tengah - Email: ppnurmuhammad038@gmail.com.

Tampilkan postingan dengan label SOP pesantren ramah anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SOP pesantren ramah anak. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 September 2026

Stop Kekerasan di Pesantren Jawa Tengah, Wujudkan Pesantren Aman dan Ramah Anak

Stop-Kekerasan-di-Pesantren-Jawa-Tengah
 
PP NUR MUHAMMAD Magelang ----- Pondok pesantren merupakan ruang pendidikan, pembinaan akhlak, sekaligus tempat tumbuh dan berkembangnya para santri. Karena itu, lingkungan pesantren harus menjadi tempat yang aman, nyaman, tertib, bermartabat, serta terbebas dari segala bentuk kekerasan dan perundungan.

Komitmen tersebut kembali diperkuat melalui penerbitan Surat Edaran Gubernur Jawa Tengah Nomor B/4008/0006313 tanggal 13 Agustus 2026 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Pondok Pesantren/Lembaga Pendidikan Keagamaan Formal dan Non Formal di Jawa Tengah.

Surat Edaran tersebut menjadi salah satu pedoman bagi para pemangku kepentingan dalam memperkuat upaya pencegahan dan penanganan kekerasan di lingkungan pondok pesantren dan lembaga pendidikan keagamaan di Jawa Tengah.

Membangun Pesantren yang Aman dan Bermartabat

Dalam surat pengantar diseminasi yang diterbitkan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah Nomor B-168/Kw.11.3/PP.00.7/09/2026 tanggal 16 September 2026, dijelaskan bahwa Surat Edaran Gubernur tersebut diarahkan sebagai pedoman dalam melaksanakan upaya pencegahan, deteksi dini, penanganan, perlindungan, dan pemulihan korban secara terpadu, efektif, dan berkelanjutan.

Tujuannya adalah mewujudkan pondok pesantren yang aman, bermartabat, ramah anak dan perempuan, serta bebas dari segala bentuk kekerasan.

Pesantren tidak hanya memiliki tanggung jawab dalam memberikan pendidikan keagamaan. Lebih dari itu, pesantren juga memiliki peran penting dalam membentuk karakter, kedisiplinan, tanggung jawab, kepedulian sosial, dan akhlak para santri.

Karena itu, proses pendidikan harus berjalan dalam lingkungan yang menjunjung tinggi penghormatan terhadap martabat setiap santri.

Pencegahan Kekerasan Membutuhkan Peran Bersama

Upaya menciptakan pesantren tanpa kekerasan tidak dapat dibebankan hanya kepada satu pihak. Pengasuh, ustaz dan ustazah, pengelola pesantren, tenaga kependidikan, santri, orang tua atau wali, serta masyarakat memiliki peran dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman.

Pencegahan dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana, antara lain membangun komunikasi yang sehat, memberikan pemahaman mengenai batas-batas perilaku yang tidak dapat dibenarkan, memperkuat pengawasan, serta membuka ruang komunikasi bagi santri untuk menyampaikan persoalan yang mereka hadapi.

Deteksi dini juga menjadi bagian penting. Permasalahan yang muncul di lingkungan pesantren perlu dikenali dan ditangani secara tepat agar tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih besar.

Dalam dokumen Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, upaya tersebut ditempatkan dalam kerangka yang terpadu dan berkelanjutan, termasuk penanganan, perlindungan, dan pemulihan bagi korban.

Perundungan Bukan Bagian dari Pendidikan

Salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian adalah perundungan atau bullying.

Perundungan dapat terjadi dalam berbagai bentuk, baik melalui ucapan, tindakan fisik, tekanan sosial, pengucilan, maupun bentuk perilaku lain yang merendahkan atau merugikan orang lain.

Kehidupan bersama di pesantren memang membutuhkan kedisiplinan dan pembinaan. Namun, kedisiplinan harus tetap dilaksanakan dengan cara yang mendidik dan menghormati martabat santri.

Ketegasan dalam mendidik tidak harus diwujudkan melalui kekerasan.

Pembinaan yang baik justru membantu santri memahami kesalahan, memperbaiki perilaku, bertanggung jawab, dan berkembang menjadi pribadi yang lebih matang.

Mewujudkan Pesantren Ramah Anak dan Perempuan

Surat Edaran Gubernur Jawa Tengah juga menegaskan arah pembangunan lingkungan pesantren yang ramah anak dan perempuan.

Pesantren yang ramah anak bukan berarti menghilangkan aturan dan kedisiplinan. Sebaliknya, aturan tetap diperlukan untuk menciptakan kehidupan pesantren yang tertib.

Yang perlu diperkuat adalah cara menerapkan aturan tersebut agar tetap mengedepankan pendidikan, perlindungan, penghormatan, dan pembinaan.

Dengan demikian, santri dapat menjalani pendidikan agama dan kehidupan pesantren dengan rasa aman sekaligus memperoleh ruang yang sehat untuk belajar, bertumbuh, dan mengembangkan potensi dirinya.

Diseminasi Melalui Media Digital

Untuk memperluas pemahaman masyarakat dan pesantren, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah meminta agar Surat Edaran tersebut didiseminasikan melalui berbagai media online.

Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah juga telah meneruskan permintaan tersebut kepada Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota se-Jawa Tengah melalui Kepala Seksi PD. Pontren/Pakis. Publikasi diharapkan dilakukan melalui website dan media sosial masing-masing instansi.

Materi publikasi yang disediakan meliputi:
  1. Dokumen Surat Edaran Gubernur Jawa Tengah tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Pondok Pesantren/Lembaga Pendidikan Keagamaan Formal dan Non Formal di Jawa Tengah.
  2. Poster Diseminasi Surat Edaran Gubernur.
  3. Poster STOP Kekerasan di Pondok Pesantren di Jawa Tengah.
  4. Poster Pembentukan Satgas P2KP di Pondok Pesantren.

Materi tersebut dapat diakses melalui tautan resmi yang tercantum dalam surat pengantar, yaitu bit.ly/StopKekerasandiPonpes.

Menjaga Pesantren sebagai Ruang Pendidikan

Pesantren memiliki sejarah panjang dalam mendidik generasi bangsa melalui perpaduan ilmu agama, pembentukan akhlak, kedisiplinan, dan kehidupan sosial.

Karena itu, menjaga pesantren dari kekerasan bukan hanya persoalan kepatuhan terhadap sebuah kebijakan. Lebih jauh, hal tersebut merupakan bagian dari ikhtiar menjaga marwah pesantren sebagai lembaga pendidikan yang membentuk manusia berilmu dan berakhlak.

Setiap santri berhak memperoleh lingkungan pendidikan yang aman. Setiap persoalan perlu ditangani secara bijaksana. Dan setiap upaya pencegahan kekerasan membutuhkan kepedulian seluruh unsur pesantren.

Mari bersama membangun pondok pesantren yang aman, nyaman, bermartabat, ramah anak dan perempuan, serta bebas dari segala bentuk kekerasan.

*Ayo Bersama, Stop Kekerasan!
*Jaga Pesantren Kita!
Dengan lingkungan pendidikan yang aman dan sehat, pesantren dapat terus menjadi tempat tumbuhnya generasi yang berilmu, berakhlak mulia, berkarakter, dan memiliki masa depan yang baik.

Sumber:
Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah, Surat Nomor B-168/Kw.11.3/PP.00.7/09/2026 tanggal 16 September 2026 tentang Surat Pengantar Diseminasi SE Gubernur dan Publikasi STOP Kekerasan di Pondok Pesantren di Jawa Tengah.

Tag:
#StopKekerasan #PesantrenAman #PesantrenRamahAnak
#PondokPesantren #JawaTengah #SEGubernur #PencegahanKekerasan
#PenangananKekerasan #StopBullying #SantriAman #SantriNyaman
#PesantrenTanpaKekerasan #NgopeniNglakoniJateng

Senin, 01 Desember 2025

Implementasi Program Perlindungan Santri di Pondok Pesantren Nur Muhammad Wiyono Grabag Magelang


PP NUR MUHAMMAD Kab. Magelang ----- Pesantren sejak dahulu dikenal sebagai pusat pendidikan Islam yang membentuk pribadi yang berilmu, beradab, dan berakhlakul karimah. Namun realitas sosial hari ini menunjukkan bahwa lembaga pendidikan, termasuk pesantren, menghadapi tantangan serius dalam menjaga keamanan dan keselamatan peserta didik. Kasus kekerasan seksual, perundungan, dan penyalahgunaan otoritas telah muncul di berbagai tempat dan menjadi alarm bahwa pesantren harus mengambil posisi tegas sebagai ruang aman bagi santri.

Berdasarkan amanat Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren, UU No. 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS), serta UU No. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, Pondok Pesantren Nur Muhammad Wiyono Grabag Magelang berkomitmen menjalankan program Pesantren Ramah Anak melalui penyusunan dan pemberlakuan SOP Pencegahan, Penanganan, Perlindungan, dan Pemulihan Korban Kekerasan Seksual.

Landasan Syariat dan Konstitusi

Program Pesantren Ramah Anak di Pondok Pesantren Nur Muhammad dibangun dengan prinsip kekeluargaan sehingga para pengasuh dan pemangku kebijakan dipondok pesantren harus menjalankan tugasnya berdasarkan prinsip dan asas yang telah disepekati bersama yang dalam hal ini para pengasuh dan pemangku kebijakan bertindak sebagai bagian dari keluarga agar setiap tindakan dan pengambilan keputusan tidak akan memberatkan salah satu pihak baik dari korban maupun dari pelaku.

Hal ini sejalan dengan ajaran Islam, bahwa anak adalah amanah yang harus dijaga kehormatan dan kemaslahatannya. Firman Allah dalam QS. At-Tahrim ayat 6

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ ۝٦

Artinya:
Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras. Mereka tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepadanya dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At-Tahrim ayat 6).

Dari ayat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa Allah memerintahkan setiap Muslim untuk menjaga keluarga bukan hanya dari siksa api neraka akan tetapi dari semua bahaya, baik fisik, mental, maupun moral. Selain itu Hadis Rasulullah SAW juga melarang tindakan zalim dan pelecehan dalam bentuk apapun.

Secara regulatif, pesantren wajib melindungi santri berdasarkan:
  • UUD 1945 Pasal 28G ayat (1) tentang hak rasa aman dan bebas dari kekerasan
  • UU No. 18 Tahun 2019 tentang Pesantren
  • UU No. 12 Tahun 2022 tentang TPKS
  • UU No. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak
  • PMA No. 73 Tahun 2022 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual pada Satuan Pendidikan Keagamaan
Dengan dasar tersebut, pesantren tidak hanya sekedar mendidik, tetapi wajib melindungi martabat dan masa depan setiap santri.

Pembentukan Satgas P4KS sebagai Garda Depan Perlindungan Santri

Untuk memastikan pelaksanaannya berjalan sistematis, Pondok Pesantren Nur Muhammad membentuk Satgas P4KS (Pencegahan, Penanganan, Perlindungan, Pemulihan Korban dan Sanksi bagi Pelaku). Satgas ini bertugas:
  • Menerima dan memproses laporan kekerasan
  • Memberikan pendampingan fisik, psikologis, rohani, dan hukum
  • Menjamin kerahasiaan dan keamanan korban
  • Menindak tegas dan adil setiap pelaku tanpa pandang status
  • Melakukan edukasi literasi anti-kekerasan dan kesehatan reproduksi
Struktur Satgas mencakup penanggung jawab, ketua, bidang penanganan, perlindungan, pemulihan, humas, dan keamanan.

Upaya Pencegahan Menuju Pesantren Ramah Anak

Program pencegahan berjalan melalui beberapa strategi utama, di antaranya:
  • Sosialisasi rutin kepada santri, wali santri, dan masyarakat sekitar tentang bahaya kekerasan seksual dan mekanisme pelaporan
  • Pelatihan anti-kekerasan serta edukasi moral dan kesehatan reproduksi sesuai syariat
  • Monitoring lingkungan belajar dan asrama
  • Membangun budaya komunikasi terbuka tanpa intimidasi
  • Menjalankan SOP secara konsisten dan transparan
  • Membuat jalur pelaporan yang mudah diakses dan aman
Dengan langkah ini, pesantren berkomitmen mewujudkan lembaga pendidikan sebagai Wilayah Bebas Kekerasan.

Mekanisme Penanganan dan Pemulihan Korban

Jika terjadi pengaduan, Satgas mengikuti alur resmi yang sudah tertuang dalam SOP mulai dari penerimaan laporan, assessment, pengamanan korban, rujukan penanganan, hingga pemulihan psikososial dan pendidikan. Sanksi bagi pelaku diberikan sesuai tingkat pelanggaran yang dilakukan, mulai teguran hingga proses hukum pidana.

Komitmen Jangka Panjang

Melalui implementasi SOP ini, Pondok Pesantren Nur Muhammad Wiyono Grabag Magelang, berusaha memperkuat budaya perlindungan santri, memperbaiki sistem pengawasan, membuka ruang evaluasi, dan menegakkan prinsip bahwa pesantren harus menjadi tempat paling aman bagi anak untuk belajar dan berkembang. Pesantren Ramah Anak bukan slogan kosong. Ia adalah komitmen moral, hukum, dan amanah Ilahi. Melindungi santri berarti menjaga masa depan umat.

SOP ini adalah dokumen yang dapat diperbarui sesuai kebutuhan dan perkembangan pesantren dengan menyesuaikan lingkungan pesantren masing masing. Bagi sobat santri yang ingin membuat SOP dan masih bingung saya share file SOP Pondok Pesantren Nur Muhammad yang bisa kalian jadikan sebagai referensi penyusunan, bukan untuk disalin mentah-mentah, tetapi sebagai contoh format teknis dan alur implementasi layanan.

Semoga ikhtiar ini menjadi bagian dari perjuangan bersama menciptakan pesantren yang aman, sehat, dan bermartabat sesuai nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Berikut Link SOP TPPK Pesantren