Baca Juga

.related-posts ul li a { display: flex; align-items: center; gap: 10px; text-decoration: none; } .related-posts ul li a img { width: 60px; height: auto; object-fit: cover; border-radius: 4px; }

Cokie

Memuat data kunjungan...

Ads

Pondok Pesantren Nur Muhammad

Alamat: Dusun Wiyono Rt 03 Rw 02 Desa Grabag Kecamatan Grabag Kabupaten Magelang Jawa Tengah - Email: ppnurmuhammad038@gmail.com.

Pondok Pesantren Nur Muhammad

Alamat: Dusun Wiyono Rt 03 Rw 02 Desa Grabag Kecamatan Grabag Kabupaten Magelang Jawa Tengah - Email: ppnurmuhammad038@gmail.com.

Pondok Pesantren Nur Muhammad

Alamat: Dusun Wiyono Rt 03 Rw 02 Desa Grabag Kecamatan Grabag Kabupaten Magelang Jawa Tengah - Email: ppnurmuhammad038@gmail.com.

Pondok Pesantren Nur Muhammad

Alamat: Dusun Wiyono Rt 03 Rw 02 Desa Grabag Kecamatan Grabag Kabupaten Magelang Jawa Tengah - Email: ppnurmuhammad038@gmail.com.

Pondok Pesantren Nur Muhammad

Alamat: Dusun Wiyono Rt 03 Rw 02 Desa Grabag Kecamatan Grabag Kabupaten Magelang Jawa Tengah - Email: ppnurmuhammad038@gmail.com.

Sabtu, 22 November 2025

Sejarah Panjang Ponpes API Tegalrejo: Perjuangan, Perkembangan, dan Peran Strategis dalam Dunia Pesantren Salaf

 
PP. Nur Muhammad Magelang --- Halo Sobat Santri kali ini kita akan membahas sejarah Pondok Pesantren paling terkenal di Kabupaten Magelang. Yups mana lagi kalo bukan Ponpes API Tegalrejo, sebelum kita lanjut bahwa artikel ini disusun berdasarkan rangkuman dari berbagai sumber sejarah, dokumentasi pesantren, dan penuturan tokoh-tokoh di kabupaten magelang jadi jika ada tulisan yang kurang pas atau mungkin menyimpang mohon koreksinya para sobat santri, agar tulisan ini dapat memberika informasi yang utuh dan tidak menyesatkan. Oke markinjut mari kita lanjut..

Asal Usul Berdirinya Ponpes API Tegalrejo

Pondok Pesantren API (Asrama Perguruan Islam) Tegalrejo berdiri pada 1 Oktober 1944 M di Desa Krajan, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang. Pesantren ini didirikan oleh KH Chudlori bin Haji Ihsan, seorang ulama yang dikenal berwawasan luas dan berdedikasi tinggi dalam dakwah. Pada masa itu, masyarakat masih kuat dipengaruhi tradisi kejawen dan kepercayaan lokal, sehingga kehadiran pesantren menjadi titik awal perubahan keagamaan di Tegalrejo. Secara resmi bernama Asrama Perguruan Islam, namun masyarakat lebih mengenalnya sebagai Ponpes API Tegalrejo. Keberadaannya kemudian menjadikan kawasan Tegalrejo identik dengan tradisi salaf.

Biografi Singkat KH Chludori bin Haji Ihsan

KH Chudlori dibesarkan dalam lingkungan religius dan menempuh pendidikan di berbagai pesantren salaf. Kepakarannya dalam kitab kuning, ilmu nahwu, dan fiqih menjadi fondasi utama dalam sistem pendidikan yang beliau bangun. Sosoknya dikenal tegas namun tetap penuh kasih dalam membimbing para santri.

Latar Sosial Keagamaan Masyarakat Tegalrejo

Pada masa awal berdirinya pesantren, sebagian masyarakat masih terpengaruh praktik non-syariat, ritual kejawen, dan minimnya pemahaman agama. Bahkan ada pihak yang menolak aktivitas pesantren. Kondisi ini justru mempertegas urgensi pendirian Ponpes API sebagai pusat dakwah dan pendidikan Islam.

Kepemimpinan Pesantren dari Generasi ke Generasi

Kepemimpinan KH Abdurrahman Chudlori

Setelah wafatnya KH Chudlori pada 28 Agustus 1977, kepemimpinan diteruskan oleh putranya, KH Abdurrahman Chudlori. Di masa ini, pesantren berkembang pesat. Pada 1986, jumlah santri mencapai sekitar 1300 orang. Fasilitas diperluas dan kurikulum salaf diperkuat.

Pengembangan Fasilitas dan Pertumbuhan Santri

Berbagai kompleks baru dibangun untuk menampung santri yang terus meningkat. Upaya penguatan pendidikan klasik terus dijaga agar kualitas pembelajaran tetap bertahan.

Pengasuhan KH Mudrik Chudlori dan KH Hanif Chudlori

Setelah wafatnya KH Abdurrahman pada 24 Januari 2011, kepemimpinan dilanjutkan oleh KH Mudrik Chudlori dan KH Hanif Chudlori. Jumlah santri saat itu sekitar 3000, dan kini mendekati 7000, menjadikan Ponpes API salah satu pesantren salaf terbesar di Indonesia.

Ponpes API Tegalrejo sebagai Pusat Kajian Kitab Salaf

Konsistensi Pengajaran Kitab Kuning

Ponpes API identik dengan pengajaran kitab kuning klasik, khususnya dalam bidang nahwu, fiqih, balaghah, dan berbagai disiplin tradisional yang menjadi ciri khas pesantren salaf.

Tokoh dan Alumni Ternama

Banyak tokoh besar pernah menimba ilmu di Ponpes API, termasuk Presiden RI ke-4, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Alumni lain tersebar sebagai ulama, dai, dan tokoh masyarakat di berbagai daerah.

Kehidupan Sosial Masyarakat Sekitar Pesantren

Karakteristik Warga Tegalrejo

Mayoritas masyarakat Tegalrejo merupakan warga nahdliyin. Pada era awal, praktik keagamaan sebagian masyarakat belum sepenuhnya sesuai syariat. Mata pencaharian warga beragam, mulai dari petani, pedagang, buruh, hingga pegawai.

Peran Ponpes API dalam Dakwah dan Transformasi Masyarakat

Tantangan Dakwah di Masa Awal

Pada awal berdirinya, aktivitas pesantren sering mendapat resistensi sosial. Namun KH Chudlori tetap teguh menghadapi hambatan demi tegaknya pendidikan Islam.

Dampak Besar terhadap Perubahan Sosial dan Keagamaan

Upaya panjang pesantren berbuah perubahan signifikan. Penguatan akidah, pemahaman agama, dan perubahan perilaku masyarakat menjadi bukti nyata kontribusi Ponpes API dalam membentuk kehidupan sosial Tegalrejo.

Itulah Sobat santri sekilas tentang sejarah Ponpes API Tegalrejo Magelang semoga tulisan ini dapat memberikan wawasan dan keilmuan bagi kita semua Aamiin…


Sumber Referensi:

  1. “Pondok Pesantren API Tegalrejo” — situs resmi Kabupaten Magelang menjelaskan tanggal pendirian, pendiri (KH Chudlori), dan latar sosial pesantren. (magelangkab.go.id).
  2. Artikel “KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo” di NU Online, menjelaskan riwayat hidup beliau. (NU Online).
  3. Profil KH Chudlori sebagai ulama yang rendah hati, dan perannya saat perjuangan kemerdekaan. (republika.id).
  4. Perkembangan Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam Tegalrejo (1944–2007), skripsi oleh M. Khoirul Muna (UIN Salatiga). (E-Repository UIN Salatiga).
  5. Tesis Peran Pondok Pesantren API Tegalrejo dalam Pendidikan Masyarakat dan Pencerdesan Umat (2007–2012) oleh Akhmad Dartono (UIN Sunan Kalijaga). (Digilib UIN Sukarno).
  6. Disertasi Inovasi Manajemen Perubahan pada Sistem Pendidikan Ponpes API Tegalrejo (Universitas Negeri Semarang). (Repository Unusia).
  7. Artikel “Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, Magelang” di Laduni. (laduni.id).

Penulis & Editor: Maz Roha

Selasa, 18 November 2025

Visitasi Akreditasi Pendidikan Kesetaraan Pondok Pesantren Nur Muhammad Kabupaten Magelang

Senin–Selasa, 27–28 Oktober 2025,


Pondok Pesantren Nur Muhammad, Wiyono, Grabag, Kabupaten Magelang menjalani momen penting pada Senin–Selasa, 27–28 Oktober 2025. Tim Asesor dari Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Menengah (BAN PDM) hadir untuk melaksanakan visitasi akreditasi Pendidikan Kesetaraan Pondok Pesantren Salafiyah (PKPPS).

Visitasi ini bukan sekadar penilaian administrasi, tetapi menjadi evaluasi komprehensif untuk melihat mutu lulusan, kualitas pembelajaran, kompetensi pendidik, serta manajemen satuan pendidikan. Yang membuat visitasi tahun 2025 ini lebih bermakna adalah penekanan pada integrasi nilai-nilai kepesantrenan seperti kemandirian, disiplin, dan karakter islami dengan capaian akademik dan keterampilan fungsional yang dituntut kurikulum nasional.

Selama dua hari, asesor melakukan observasi kelas, wawancara dengan pengasuh, ustadz dan ustadzah, serta para santri atau warga belajar. Verifikasi dokumen melalui Sispena memastikan seluruh data yang disampaikan sesuai dengan kondisi lapangan. Proses ini menjadi ruang refleksi bagi pesantren untuk memperkuat kualitas layanan pendidikan yang relevan dan berorientasi pada pembentukan karakter unggul para santri.

Acara visitasi dibuka oleh Pengasuh Ponpes Nur Muhammad, Kyai Amin Mustofa Mahfudz, bersama jajaran lembaga terkait. Hadir pula Kasi PD Pontren Kabupaten Magelang, H. Muhrisun, M.Pd., M.Si., yang menegaskan bahwa akreditasi bukan hanya legalitas formal, tetapi menjadi ukuran mutu dan pijakan awal untuk semakin meningkatkan layanan pendidikan kesetaraan pondok pesantren.

Fokus Penilaian Akreditasi 2025

BAN PDM menerapkan Instrumen Akreditasi IA2024 yang berorientasi pada kinerja (performance-based). Empat fokus utama visitasi meliputi:

1. Kinerja Pendidik dalam Pembelajaran
Penilaian meliputi:
• Dukungan sosial emosional bagi warga belajar
• Pembelajaran berdiferensiasi dan berpusat pada peserta didik
• Pemanfaatan penilaian formatif untuk perbaikan berkelanjutan

2. Kepemimpinan Satuan Pendidikan
Meliputi kemampuan kepala satuan pendidikan dalam:
• Refleksi kinerja dan evaluasi program
• Membangun budaya belajar dan inovasi
• Menyediakan kebijakan dan sumber daya yang efektif

3. Iklim Lingkungan Belajar
Asesor melihat apakah lingkungan belajar aman, inklusif, ramah, bebas perundungan, serta memberi ruang untuk keberagaman karakter warga belajar.

4. Hasil Pembelajaran/Lulusan
Penilaian pada kompetensi akademik, keterampilan, dan dampak keberlanjutan pendidikan setelah lulus.

Peran Kunci Asesor dalam Visitasi

Asesor BAN PDM bertugas menilai secara objektif melalui:
• Telaah dokumen dan Data Isian Akreditasi (DIA) di Sispena
• Observasi proses pembelajaran dan kondisi fasilitas
• Wawancara dengan jajaran lembaga hingga warga belajar
• Verifikasi bukti lapangan berbasis data dan fakta

Pada pendidikan kesetaraan, asesor juga menilai bagaimana satuan pendidikan mengelola fleksibilitas jadwal dan kurikulum untuk menyesuaikan kebutuhan warga belajar.

Tips Persiapan Akreditasi untuk Lembaga Pendidikan Kesetaraan

1. Siapkan Bukti Kinerja yang Otentik
Kumpulkan portofolio hasil belajar, dokumentasi kegiatan, praktik baik pembelajaran, dan data capaian lulusan.

2. Gunakan Instrumen IA2024/IA2025 untuk Refleksi
Instrumen akreditasi bukan daftar cek, tetapi alat pemetaan mutu. Identifikasi area yang kuat dan yang perlu diperbaiki.

3. Lengkapi Dokumen Digital di Sispena
Pastikan seluruh unggahan rapi, sesuai standar, dan mudah diverifikasi asesor selama visitasi.

Visitasi Akreditasi 2025 menjadi langkah strategis bagi pesantren untuk memastikan layanan pendidikan kesetaraan yang bermutu, relevan, dan berdaya guna bagi masa depan santri. Akreditasi bukan garis akhir, tetapi fondasi bagi penguatan kualitas pendidikan pesantren di masa mendatang.

––––––––––––––––––––––––––––––––––
Di Tulis Oleh: Maz Roha

Tagar:
#Akreditasi2025 #PendidikanKesetaraan #PondokPesantren #PonpesNurMuhammadMagelang #BANPDM #VisitasiAkreditasi #PKPPS #Sispena #BeritaPesantren

Sabtu, 15 November 2025

Perang Narasi di Dunia Santri: Media, Tradisi, dan Reputasi Pesantren

PP Nur Muhammad Magelang - - - - - Perkembangan teknologi digital telah menghadirkan medan baru bagi pesantren: ruang pertarungan narasi. Reputasi pesantren kini tidak hanya dibentuk oleh interaksi langsung di masyarakat, tetapi juga oleh konten media sosial, pemberitaan, hingga potongan video yang berputar cepat di berbagai platform. Narasi yang muncul tidak selalu objektif. Ada yang informatif dan edukatif, tetapi tidak sedikit yang bersifat reduktif, sensasional, bahkan menyesatkan. Kontroversi tayangan “Xpose Uncensored” Trans7 dan merebaknya video deepfake yang memfitnah pesantren menjadi bukti nyata bahwa pesantren berada dalam pusaran opini publik digital yang tidak mudah dikendalikan.

Framing Media dan Ketegangan Narasi

Isu terbesar yang memicu perdebatan luas adalah tayangan yang dianggap merendahkan kehidupan santri di salah satu pesantren besar. Framing visual serta narasi yang dibangun menampilkan potret yang tidak representatif, seperti penggambaran perilaku santri secara karikatural dan penafsiran dangkal terhadap tradisi pesantren.

Fenomena ini melahirkan gelombang protes melalui tagar #BoikotTrans7 yang viral di platform X, TikTok, dan Instagram. Menyadari tekanan publik dan koreksi dari berbagai tokoh, pihak Trans7 akhirnya mengajukan permintaan maaf secara resmi.

Framing seperti ini memperlihatkan bagaimana media dapat menciptakan gambaran pesantren yang tidak berimbang, yang kemudian membentuk opini publik secara luas.

Fitnah Digital Melalui Konten AI

Kehadiran teknologi kecerdasan buatan membuka ruang baru untuk penyalahgunaan informasi. Munculnya video deepfake yang menyudutkan pesantren dan santri dengan narasi provokatif menunjukkan bahwa reputasi lembaga pendidikan keagamaan kini dapat diserang secara terstruktur dan meyakinkan.

Tokoh publik menegaskan bahwa fenomena ini merupakan bentuk “fitnah digital” yang harus diwaspadai karena memiliki potensi merusak kepercayaan masyarakat terhadap institusi keagamaan. Konten semacam ini semakin mudah menyebar karena algoritma media sosial lebih menyukai video kontroversial daripada konten mendidik.

Pesantren Dalam Sorotan Publik Digital

Ada tiga kecenderungan yang dapat diamati dari dinamika narasi di media digital:

1. Representasi Tidak Menyeluruh
Banyak media hanya menyorot bagian yang ekstrem, tidak biasa, atau tampak unik bagi audiens luar pesantren. Padahal pesantren merupakan ekosistem pendidikan besar yang mencakup disiplin ilmu agama, bahasa, sosial, hingga ekonomi.

2. Perbedaan Cara Pandang
Pesantren beroperasi berdasarkan adab, kedalaman tradisi, dan otoritas keilmuan. Sementara audiens digital membaca segala sesuatu secara instan. Tradisi yang tidak mereka pahami mudah dianggap kolot atau tidak relevan.

3. Pesantren Mulai Aktif Mengambil Ruang Narasi
Semakin banyak pesantren membangun kanal YouTube, website resmi, konten edukatif, hingga program literasi digital untuk santri. Langkah ini menandai kesadaran bahwa reputasi harus diperjuangkan, bukan dibiarkan dibentuk orang lain.

Dampak Perang Narasi Terhadap Reputasi Pesantren

1. Menurunnya Kepercayaan Masyarakat Awam
Masyarakat yang tidak memiliki pengalaman mondok berpotensi membangun persepsi berdasarkan informasi viral, bukan informasi faktual.

2. Munculnya Polarisasi dan Stereotip
Framing negatif dapat menghasilkan stigma sosial dan memperlebar jurang antara kelompok masyarakat yang mengenal pesantren dan yang tidak.

3. Berkurangnya Ruang Diskusi Konstruktif
Ketika pesantren sibuk meluruskan kesalahpahaman publik, ruang untuk membahas inovasi, pengembangan kurikulum, dan peningkatan kualitas pendidikan menjadi tersisih.

Mengapa Pesantren Rentan Diframing?

1. Minimnya dokumentasi kegiatan internal yang dipublikasikan.
2. Kompleksitas tradisi yang sulit dipahami oleh masyarakat luar.
3. Pergerakan informasi digital yang sangat cepat dan tidak menunggu klarifikasi.
Ketiga faktor ini membuat pesantren mudah disalahpahami dan sulit membalik opini publik yang sudah terlanjur terbentuk.

Strategi Pesantren Merebut Kembali Narasi

Untuk menghadapi perang narasi ini, beberapa langkah strategis perlu dipertimbangkan:

1. Penguatan Kanal Informasi Resmi
Website, akun media sosial, dan publikasi kegiatan pesantren harus dikelola secara profesional. Dokumentasi ilmiah, kegiatan harian, dan program pendidikan perlu dipublikasikan secara rutin.

2. Literasi Digital untuk Santri
Santri perlu dibekali kemampuan membaca media, memahami framing, memverifikasi informasi, serta memproduksi konten positif.

3. Kemitraan Dengan Media Tepercaya
Kerja sama dengan media profesional dapat mengurangi risiko salah representasi dan meningkatkan kualitas pemberitaan tentang pesantren.

4. Membuka Ruang Dialog Publik
Diskusi, podcast, dan seminar terbuka dapat menjembatani pemahaman antara pesantren dan masyarakat luas.

Penutup

Perang narasi di dunia santri bukan hanya persoalan konten viral, tetapi persoalan marwah lembaga pendidikan Islam yang selama berabad-abad membentuk karakter bangsa. Pesantren perlu hadir secara aktif dalam ruang digital untuk menjaga kehormatan, menyampaikan fakta, dan menampilkan wajah pesantren sebagaimana adanya, lembaga pendidikan yang berakar kuat, adaptif, dan konsisten dalam membangun peradaban ilmu.

Tagar:
#Pesantren #Santri #PerangNarasi #IsuViralPesantren #ReputasiPesantren #MediaDigital #FramingMedia #LiterasiDigitalSantri #ArtikelPesantren #DuniaSantri

Kamis, 23 Oktober 2025

Makna Hari Santri: Mengapa Bukan Hari Kyai?

    Foto Santri Nur Muhammad Apel Hari Santri Nasional 2025

Hari Santri menjadi momentum penting bagi umat Islam di Indonesia, khususnya warga pesantren dan Nahdlatul Ulama. Namun muncul pertanyaan yang sering kali terlintas di benak banyak orang: kenapa harus ada Hari Santri, dan kenapa bukan Hari Kyai? Padahal, yang memproklamirkan Resolusi Jihad adalah Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Pondok Pesantren Tebuireng dan muassis Jam’iyyah Nahdlatul Ulama.

Mengapa Hari Santri, Bukan Hari Kyai?

Tonggak awal diselenggarakannya Hari Santri berasal dari semangat Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Momen itu menjadi bukti nyata peran para santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Maka yang diperingati bukan sekadar sosok yang menggerakkan, tetapi semangat dan jiwa santri yang menggelora pada masa itu.

Peringatan Hari Santri menunjukkan bahwa setiap Kyai pasti pernah menjadi santri. Tidak ada Kyai yang muncul tiba-tiba tanpa pernah menimba ilmu di pesantren. Setiap Kyai adalah santri bagi Kyainya. Karena itu, Hari Santri juga merupakan bentuk penghormatan kepada para Kyai—karena di dalam diri setiap Kyai hidup semangat santri.

Santri dan Rantai Keilmuan Para Kyai

KH. Hasyim Asy’ari sendiri adalah santri dari KH. Kholil Bangkalan. Bertahun-tahun beliau menimba ilmu di Bangkalan sebelum kemudian mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng. Setelah pesantrennya berdiri, KH. Kholil pun datang ke Tebuireng dan mengaji di hadapan KH. Hasyim Asy’ari.

KH. Hasyim sempat terkejut dan berkata, “Kyai, panjenengan adalah guru saya. Mengapa sekarang panjenengan mengaji kepada saya?” KH. Kholil dengan rendah hati menjawab, “Yang dulu biarlah berlalu. Dulu kamu mondok di tempatku, sekarang aku ingin belajar kepadamu.”

Inilah tradisi luhur para ulama dulu: saling menimba ilmu tanpa gengsi, tanpa takabur.

Hal yang sama juga terjadi antara KH. Abdul Karim (muassis Pondok Pesantren Lirboyo) dan KH. Hasyim Asy’ari. Saat KH. Hasyim Asy’ari mondok di Bangkalan, KH. Abdul Karim sudah lebih dahulu di sana, bisa dikatakan sebagai “senior”-nya. Setelah KH. Hasyim mendirikan Tebuireng, KH. Abdul Karim pun sempat “transit” di Tebuireng selama beberapa tahun dan turut mengaji di hadapan KH. Hasyim Asy’ari.

Keduanya saling bertanya dan berdiskusi tentang berbagai masalah keilmuan, baik masa’il naqliyyah maupun shorfiyah. Tidak ada rasa lebih tinggi satu sama lain. Tradisi memperbanyak guru ini menjadi ciri khas ulama zaman dahulu yang kini mulai pudar.

Tradisi Ilmu dan Kerendahan Hati yang Mulai Hilang

Sekarang, banyak yang baru mondok enam tahun sudah merasa paling alim, bahkan ada yang belum pernah mondok tapi langsung mendirikan pesantren. Ini adalah bentuk kesalahan dalam memahami tradisi keilmuan pesantren.

Tradisi yang diwariskan para ulama seperti KH. Hasyim Asy’ari, KH. Kholil Bangkalan, dan KH. Abdul Karim adalah memperbanyak guru dan memperbanyak sanad. Tidak ada ruang bagi kesombongan dalam menuntut ilmu.

Warisan Tradisi Nahdlatul Ulama

Nahdlatul Ulama berdiri di atas tradisi dan budaya yang kuat—tahlilan, maulidan, manaqiban, dan amaliyah lainnya. Itu adalah warisan leluhur yang turun-temurun. Walau sebagian orang tidak tahu dalilnya secara tekstual, mengikuti para guru sudah cukup menjadi dalil yang kuat.

KH. Hasyim Asy’ari menegaskan dalam Risalah Ahlussunnah wal Jamaah

“Ketika satu adat dilakukan secara turun-temurun sejak masa kakek hingga keturunannya, dan diamalkan oleh para santri dan guru-guru mereka, maka itu sudah cukup menjadi dalil.”

Jadi, ketika seseorang bertanya apa dalil tahlilan, maulidan, atau manaqiban, jawaban yang paling sederhana adalah: “Dalilnya sudah diamalkan sejak kakek moyang kami. Kalau tidak percaya, silakan tanya kepada mereka—kalau kamu bisa.”

Kesimpulan

Hari Santri bukan untuk menyaingi peran para Kyai, tetapi justru untuk menghidupkan kembali semangat keilmuan, kerendahan hati, dan tradisi pesantren yang diwariskan para Kyai. Setiap Kyai adalah santri, dan setiap santri berpotensi menjadi Kyai.

Maka, memperingati Hari Santri berarti menghormati keduanya—santri dan Kyai—sekaligus menjaga api tradisi yang telah membentuk wajah Islam Nusantara.


Tagar:
#HariSantri2025 #SantriIndonesia #ResolusiJihad #KH_HasyimAsyari #Pesantren #SantriNU #TradisiPesantren #Tebuireng #Lirboyo #KyaiKholilBangkalan #NahdlatulUlama #SantriGaptek #SantriNurMuhammadMagelang


Ditulis oleh: Tim Santri Gaptek
Tagline: Ngaji Didunia Nyata, Berfikir Didunia Maya.

10 Adab Santri Menurut Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari

    Foto Ngaji Kitab Tangkihul Qoul Bersama Ibu Nyai Uswatun Hasanah

Masih dalam suasana Hari Santri 2025, mari kita ingat lagi salah satu moto sakral para pejuang ilmu: “Al-Adabu Fauqa Al-‘Ilm” – adab itu di atas ilmu.
Kalimat sederhana, tapi dalamnya bikin malu kalau kita cuma pinter tapi nggak tahu sopan.

Hadratussyaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, dalam kitab legendarisnya Adab al-‘Alim wal-Muta‘allim, ngasih panduan 10 adab penting yang wajib nempel di diri setiap santri. Bukan cuma buat yang mondok, tapi juga buat siapa pun yang mau hidupnya beres dan ilmunya manfaat.

Berikut 10 adab itu, versi santri gaptek yang (insyaallah) masih berusaha jadi manusia waras di tengah dunia digital ini.

1. Menyucikan Hati

Hati itu pusat segalanya. Kalau isinya iri, dengki, atau licik, jangan harap ilmu bakal masuk. Hadratussyaikh wanti-wanti: bersihkan dulu hati sebelum menuntut ilmu. Hati kotor sama aja kayak gelas penuh lumpur—nggak bisa diisi air jernih.

2. Memurnikan Niat

Cari ilmu itu bukan buat gaya, bukan biar viral, bukan juga biar bisa debat di kolom komentar. Niatnya cuma satu: ridha Allah. Kalau niatnya udah bener, semua langkah bakal ringan. Tapi kalau niatnya kusut, ya hasilnya juga kusut.

3. Gunakan Masa Muda

Syekh Hasyim Asy’ari bilang, masa muda itu waktu terbaik untuk belajar. Jangan ditukar sama rebahan tanpa makna. Umur nggak bisa di-replay. Yang ada nanti cuma penyesalan karena waktu udah habis, ilmu belum dapet, amal belum jalan.

4. Qana’ah dan Sederhana

Santri sejati nggak gengsi makan tempe. Hidup sederhana itu bukan tanda kalah, tapi bukti kuat. Dari kesederhanaan itu muncul kebijaksanaan. Ilmu nggak bakal betah di hati orang yang manja.

5. Pandai Atur Waktu

Setiap jam itu mahal. Siang buat belajar, sore buat nulis, malam buat muthala’ah, dan sepertiga malam buat hafalan. Hidup yang berantakan biasanya dimulai dari waktu yang berantakan juga.

6. Jangan Kebanyakan Makan

Perut penuh, otak redup. Banyak makan bikin malas, ngantuk, dan gampang sakit. Para ulama dulu hidup sederhana bukan karena miskin, tapi karena tahu ilmu butuh energi batin, bukan cuma kalori.

7. Wara’ dan Hati-hati

Santri itu kudu waspada sama hal syubhat. Pastikan makanan, pakaian, dan tempat tinggal halal. Ilmu itu cahaya, dan cahaya nggak bakal masuk ke hati yang gelap karena barang haram.

8. Hindari Makanan yang Numpulin Lendir

Beberapa makanan bisa bikin otak bebal, kata para ulama. Misalnya terlalu banyak ikan, susu, atau apel kecut. Intinya: jaga pola makan biar akal tetap encer dan hati nggak beku.

9. Kurangi Tidur

Tidur itu perlu, tapi jangan berlebihan. Maksimal delapan jam. Kalau bisa kurang, bagus. Tapi jangan sampai ngantuk pas ngaji, itu dosa besar di dunia pesantren.

10. Batasi Pergaulan

Nggak semua yang disebut “teman” itu baik buat jiwa. Pilih pergaulan yang bikin kamu makin pinter dan makin dekat sama Allah. Kalau nongkrong cuma buat gosip dan scroll TikTok, ya itu bukan silaturahmi, itu buang umur.

Penutup:

Sepuluh adab ini bukan teori kosong. Ini fondasi agar santri (dan siapa pun) bisa hidup dengan ilmu yang berberkah. Seperti kata para kiai: “Ilmu tanpa adab ibarat api tanpa kendali.”
Semoga kita semua nggak cuma pandai bicara tentang adab, tapi juga bisa hidup dengan adab.

Wallahu a‘lam bish-shawab.

Ditulis oleh: Kang Santri
Tagline: Ngaji Digital, Nalar Tetap Integral.