Baca Juga

.related-posts ul li a { display: flex; align-items: center; gap: 10px; text-decoration: none; } .related-posts ul li a img { width: 60px; height: auto; object-fit: cover; border-radius: 4px; }

Cokie

Memuat data kunjungan...

Ads

Kamis, 23 Oktober 2025

Makna Hari Santri: Mengapa Bukan Hari Kyai?

    Foto Santri Nur Muhammad Apel Hari Santri Nasional 2025

Hari Santri menjadi momentum penting bagi umat Islam di Indonesia, khususnya warga pesantren dan Nahdlatul Ulama. Namun muncul pertanyaan yang sering kali terlintas di benak banyak orang: kenapa harus ada Hari Santri, dan kenapa bukan Hari Kyai? Padahal, yang memproklamirkan Resolusi Jihad adalah Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Pondok Pesantren Tebuireng dan muassis Jam’iyyah Nahdlatul Ulama.

Mengapa Hari Santri, Bukan Hari Kyai?

Tonggak awal diselenggarakannya Hari Santri berasal dari semangat Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Momen itu menjadi bukti nyata peran para santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Maka yang diperingati bukan sekadar sosok yang menggerakkan, tetapi semangat dan jiwa santri yang menggelora pada masa itu.

Peringatan Hari Santri menunjukkan bahwa setiap Kyai pasti pernah menjadi santri. Tidak ada Kyai yang muncul tiba-tiba tanpa pernah menimba ilmu di pesantren. Setiap Kyai adalah santri bagi Kyainya. Karena itu, Hari Santri juga merupakan bentuk penghormatan kepada para Kyai—karena di dalam diri setiap Kyai hidup semangat santri.

Santri dan Rantai Keilmuan Para Kyai

KH. Hasyim Asy’ari sendiri adalah santri dari KH. Kholil Bangkalan. Bertahun-tahun beliau menimba ilmu di Bangkalan sebelum kemudian mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng. Setelah pesantrennya berdiri, KH. Kholil pun datang ke Tebuireng dan mengaji di hadapan KH. Hasyim Asy’ari.

KH. Hasyim sempat terkejut dan berkata, “Kyai, panjenengan adalah guru saya. Mengapa sekarang panjenengan mengaji kepada saya?” KH. Kholil dengan rendah hati menjawab, “Yang dulu biarlah berlalu. Dulu kamu mondok di tempatku, sekarang aku ingin belajar kepadamu.”

Inilah tradisi luhur para ulama dulu: saling menimba ilmu tanpa gengsi, tanpa takabur.

Hal yang sama juga terjadi antara KH. Abdul Karim (muassis Pondok Pesantren Lirboyo) dan KH. Hasyim Asy’ari. Saat KH. Hasyim Asy’ari mondok di Bangkalan, KH. Abdul Karim sudah lebih dahulu di sana, bisa dikatakan sebagai “senior”-nya. Setelah KH. Hasyim mendirikan Tebuireng, KH. Abdul Karim pun sempat “transit” di Tebuireng selama beberapa tahun dan turut mengaji di hadapan KH. Hasyim Asy’ari.

Keduanya saling bertanya dan berdiskusi tentang berbagai masalah keilmuan, baik masa’il naqliyyah maupun shorfiyah. Tidak ada rasa lebih tinggi satu sama lain. Tradisi memperbanyak guru ini menjadi ciri khas ulama zaman dahulu yang kini mulai pudar.

Tradisi Ilmu dan Kerendahan Hati yang Mulai Hilang

Sekarang, banyak yang baru mondok enam tahun sudah merasa paling alim, bahkan ada yang belum pernah mondok tapi langsung mendirikan pesantren. Ini adalah bentuk kesalahan dalam memahami tradisi keilmuan pesantren.

Tradisi yang diwariskan para ulama seperti KH. Hasyim Asy’ari, KH. Kholil Bangkalan, dan KH. Abdul Karim adalah memperbanyak guru dan memperbanyak sanad. Tidak ada ruang bagi kesombongan dalam menuntut ilmu.

Warisan Tradisi Nahdlatul Ulama

Nahdlatul Ulama berdiri di atas tradisi dan budaya yang kuat—tahlilan, maulidan, manaqiban, dan amaliyah lainnya. Itu adalah warisan leluhur yang turun-temurun. Walau sebagian orang tidak tahu dalilnya secara tekstual, mengikuti para guru sudah cukup menjadi dalil yang kuat.

KH. Hasyim Asy’ari menegaskan dalam Risalah Ahlussunnah wal Jamaah

“Ketika satu adat dilakukan secara turun-temurun sejak masa kakek hingga keturunannya, dan diamalkan oleh para santri dan guru-guru mereka, maka itu sudah cukup menjadi dalil.”

Jadi, ketika seseorang bertanya apa dalil tahlilan, maulidan, atau manaqiban, jawaban yang paling sederhana adalah: “Dalilnya sudah diamalkan sejak kakek moyang kami. Kalau tidak percaya, silakan tanya kepada mereka—kalau kamu bisa.”

Kesimpulan

Hari Santri bukan untuk menyaingi peran para Kyai, tetapi justru untuk menghidupkan kembali semangat keilmuan, kerendahan hati, dan tradisi pesantren yang diwariskan para Kyai. Setiap Kyai adalah santri, dan setiap santri berpotensi menjadi Kyai.

Maka, memperingati Hari Santri berarti menghormati keduanya—santri dan Kyai—sekaligus menjaga api tradisi yang telah membentuk wajah Islam Nusantara.


Tagar:
#HariSantri2025 #SantriIndonesia #ResolusiJihad #KH_HasyimAsyari #Pesantren #SantriNU #TradisiPesantren #Tebuireng #Lirboyo #KyaiKholilBangkalan #NahdlatulUlama #SantriGaptek #SantriNurMuhammadMagelang


Ditulis oleh: Tim Santri Gaptek
Tagline: Ngaji Didunia Nyata, Berfikir Didunia Maya.

0 comments:

Posting Komentar